SURAKARTA – Program Studi Kesehatan Masyarakat (Kesmas), Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melanjutkan proses peninjauan dan pengembangan visi serta kurikulum melalui pertemuan yang membahas arah pendidikan kesehatan masyarakat di masa mendatang. Pertemuan tersebut menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis, mulai dari penguatan pembelajaran berbasis praktik, integrasi nilai-nilai Islam, pengembangan kompetensi digital, hingga penguatan pengalaman belajar mahasiswa di masyarakat.
Salah satu perhatian utama dalam pembahasan adalah pengembangan kurikulum yang lebih aplikatif dan terintegrasi. Keilmuan kesehatan masyarakat dinilai memiliki cakupan yang kompleks karena tidak hanya berkaitan dengan biologi dan kimia, tetapi juga melibatkan ilmu biomedik, sosial dan perilaku, serta berbagai disiplin ilmu lainnya. Karena itu, keterkaitan antarmata kuliah perlu diperkuat agar mahasiswa mampu memahami persoalan kesehatan masyarakat secara lebih komprehensif.
Untuk mendukung hal tersebut, muncul rekomendasi agar mata kuliah yang memiliki keterkaitan erat dapat dikelompokkan atau dilakukan clustering. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan keterhubungan antarkeilmuan sekaligus mengurangi beban mahasiswa dalam memahami berbagai materi yang saling beririsan.
Pembahasan juga menyoroti pengembangan Problem-Based Learning (PBL) yang lebih terstruktur. PBL diarahkan untuk dilaksanakan dalam tiga tahapan, yaitu identifikasi masalah, intervensi, dan evaluasi, dengan distribusi kegiatan pada setiap semester. Pendekatan tersebut diharapkan memberikan pengalaman belajar yang lebih sistematis sekaligus mendekatkan mahasiswa pada persoalan kesehatan masyarakat yang nyata.
Selain itu, kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) juga diusulkan untuk dapat disinergikan dengan PBL agar pengalaman mahasiswa ketika terjun ke masyarakat menjadi lebih terstruktur dan memiliki keterkaitan langsung dengan capaian pembelajaran. Prodi Kesmas UMS juga diarahkan untuk mengembangkan Interprofessional Education (IPE) melalui kolaborasi mahasiswa lintas program studi, seperti keperawatan, farmasi, dan gizi.
Dari sisi kekhasan program studi, salah satu gagasan yang muncul adalah pengembangan mata kuliah Digital Public Health Islami. Mata kuliah tersebut diharapkan dapat mengintegrasikan perkembangan teknologi digital dalam bidang kesehatan masyarakat dengan nilai-nilai Islam, sekaligus menjadi salah satu penciri kurikulum Prodi Kesmas UMS.
Penguatan kompetensi bahasa juga menjadi perhatian dalam pengembangan kurikulum. Selain kemampuan Bahasa Inggris untuk mendukung orientasi global, kemampuan Bahasa Arab turut dipertimbangkan sebagai bagian dari penguatan karakter dan peluang lulusan di tingkat internasional.
Sementara itu, profil lulusan Prodi Kesmas UMS yang telah ada dinilai pada prinsipnya sudah baik. Profil tersebut mencakup peran sebagai manajer, peneliti, edukator, komunikator, entrepreneur, dan konsultan. Namun, setiap profil tersebut dinilai perlu diperkuat dengan karakter dan nilai-nilai Islam sehingga menjadi identitas khas lulusan Kesmas UMS.
Penguatan karakter tersebut juga sejalan dengan pandangan bahwa lulusan Kesehatan Masyarakat tidak harus terbatas bekerja di sektor kesehatan. Dengan kompetensi yang dimiliki, lulusan berpeluang berkarier di berbagai sektor, seperti Bappeda, DPRD, lembaga konsultan, organisasi internasional, hingga lembaga internasional seperti UNICEF.
Dalam pembahasan visi, Prodi Kesmas UMS menilai bahwa visi yang telah ada masih relevan untuk dikembangkan dengan sejumlah penyempurnaan. Beberapa aspek yang menjadi perhatian meliputi penempatan tahun target 2029, penggunaan istilah “upaya kesehatan masyarakat”, serta penguatan orientasi global dan nilai-nilai keislaman.
Hasil pertemuan kemudian dirumuskan menjadi sejumlah tindak lanjut. Tim Prodi Kesmas UMS akan melakukan revisi draf visi, memperjelas indikator pencapaian misi, serta memperkuat integrasi nilai-nilai Islam dalam visi, misi, kurikulum, proses pembelajaran, dan profil lulusan. Kajian terhadap mata kuliah Digital Public Health Islami serta penguatan kemampuan Bahasa Inggris dan Bahasa Arab juga akan dilakukan.
Selain itu, Prodi Kesmas UMS akan mengkaji penerapan halaqah dalam pelaksanaan PBL sebagai sarana penguatan nilai-nilai keislaman. Kajian mengenai integrasi KKN dengan PBL, pengembangan IPE, clustering mata kuliah, serta peninjauan kembali profil lulusan juga menjadi bagian dari agenda tindak lanjut.
Pengembangan kurikulum juga akan terus memperhatikan perkembangan regulasi dan standar profesi kesehatan masyarakat agar kurikulum yang disusun tetap relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan keilmuan. Dalam proses tersebut, Prof. Dr. Aminuddin Syam dapat menjadi narahubung bagi Prodi Kesmas UMS untuk memperoleh referensi terkait penerapan model Problem-Based Learning (PBL) dan Evidence-Based Learning (EBL) yang telah diterapkan di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin.
Melalui rangkaian peninjauan ini, Prodi Kesmas UMS berkomitmen membangun kurikulum yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga aplikatif, berorientasi global, adaptif terhadap perkembangan teknologi, terintegrasi dengan nilai-nilai Islam, serta mampu membekali mahasiswa menghadapi persoalan kesehatan masyarakat yang semakin kompleks.
