SURAKARTA – Program Studi Kesehatan Masyarakat (Kesmas), Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), melanjutkan rangkaian peninjauan Visi, Misi, dan Kurikulum Mayor bersama pakar bidang Kesehatan Masyarakat. Pada 4 Agustus 2026, Prodi Kesmas UMS berdiskusi dengan Prof. Dr. Besral, S.K.M., M.Sc., yang memberikan sejumlah rekomendasi strategis untuk memperkuat kurikulum dan kesiapan lulusan menghadapi kebutuhan profesi Kesehatan Masyarakat.
Pertemuan tersebut membahas berbagai aspek pengembangan kurikulum, mulai dari Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), struktur mata kuliah, proporsi teori dan praktik, pembelajaran berbasis masalah, praktik peminatan, pelayanan kesehatan primer, kolaborasi lintas profesi, hingga kesiapan kurikulum dalam mendukung pendidikan profesi Kesehatan Masyarakat.
Dalam pembahasannya, Prof. Besral menilai bahwa secara umum CPL yang dimiliki Prodi Kesmas UMS telah mencerminkan kompetensi profesi Kesehatan Masyarakat. Namun, terdapat beberapa aspek yang perlu diperkuat, khususnya Digital Public Health, Public Health Disaster Management, dan Continuous Quality Improvement agar kompetensi lulusan semakin sesuai dengan perkembangan kebutuhan kesehatan masyarakat saat ini.
Penguatan tersebut menjadi penting mengingat tantangan kesehatan masyarakat semakin kompleks dan membutuhkan kemampuan lulusan untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi, menghadapi situasi kedaruratan atau bencana, serta melakukan perbaikan mutu secara berkelanjutan.
Perkuat Pembelajaran Praktik dan Integrasi Mata Kuliah
Salah satu rekomendasi utama Prof. Besral adalah memperkuat pembelajaran berbasis praktik. Proporsi ideal antara teori dan praktik yang disarankan adalah sekitar 40 persen teori dan 60 persen praktik. Komposisi tersebut diharapkan dapat memberikan ruang yang lebih besar bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama pembelajaran ke dalam persoalan kesehatan masyarakat di lapangan.
Dalam konteks praktik peminatan, penggabungan atau integrasi kegiatan praktik dinilai sangat memungkinkan dengan mempertimbangkan ketersediaan sumber daya, kebutuhan pengguna, serta karakteristik permasalahan kesehatan masyarakat yang saling berkaitan.
Menurut Prof. Besral, permasalahan kesehatan masyarakat pada dasarnya tidak berdiri sendiri. Karena itu, pendekatan praktik yang terintegrasi dinilai lebih efektif dan realistis untuk mempersiapkan mahasiswa menjadi problem solver yang adaptif dan kolaboratif.
Sejalan dengan hal tersebut, Prodi Kesmas UMS juga didorong untuk tidak sekadar menambah jumlah mata kuliah. Integrasi mata kuliah dengan bahan kajian yang memiliki kesamaan justru dapat menjadi pilihan untuk menghasilkan struktur kurikulum yang lebih efektif. Apabila beberapa mata kuliah memiliki bahan kajian yang dapat digabungkan, mata kuliah tersebut dapat diintegrasikan menjadi mata kuliah baru selama tetap sesuai dengan kebutuhan dan arah pengembangan program studi.
PBL dan KKN Tematik sebagai Pengalaman Belajar Terintegrasi
Pembahasan juga menyoroti pelaksanaan Problem-Based Learning (PBL) dan kegiatan lapangan mahasiswa. PBL 1 dan PBL 2 yang dilaksanakan secara berkelompok direkomendasikan berada pada semester 6 dan 7, sedangkan PBL 3 dapat berbentuk kegiatan magang di institusi pilihan mahasiswa.
Namun, pelaksanaan PBL pada semester yang lebih rendah perlu mempertimbangkan kesiapan mahasiswa karena kegiatan tersebut menuntut mahasiswa melakukan intervensi terhadap permasalahan masyarakat. Karena itu, PBL masih dapat diturunkan ke semester sebelumnya, tetapi tidak disarankan lebih rendah dari semester 5.
Sementara itu, pelaksanaan KKN Tematik yang melibatkan mahasiswa dari empat program studi berbeda yang telah dilakukan UMS dinilai sebagai langkah yang sangat baik. Model tersebut sejalan dengan kebutuhan pembelajaran lintas profesi yang mendorong mahasiswa untuk memahami permasalahan kesehatan secara lebih komprehensif melalui kerja sama dengan disiplin ilmu lain.
Dorong Kolaborasi Lintas Profesi dan Penguatan Pelayanan Primer
Prof. Besral juga menekankan bahwa persoalan kesehatan masyarakat tidak dapat diselesaikan oleh satu profesi. Kolaborasi lintas profesi diperlukan untuk menghasilkan solusi yang lebih tepat, efektif, dan berkelanjutan.
Karena itu, penguatan kolaborasi antarprogram studi dan antarprofesi menjadi bagian penting dalam pengembangan pembelajaran Prodi Kesmas UMS. Pengalaman mahasiswa bekerja bersama mahasiswa dari bidang lain diharapkan mampu membangun kemampuan komunikasi, koordinasi, kepemimpinan, dan pemecahan masalah yang akan dibutuhkan ketika memasuki dunia profesional.
Selain kolaborasi, pelayanan kesehatan primer juga menjadi salah satu aspek yang perlu diperkuat sejak mahasiswa berada di semester awal. Mahasiswa dapat mulai dikenalkan dengan kondisi lapangan melalui kegiatan observasi, wawancara dengan tenaga kesehatan, identifikasi masalah kesehatan prioritas di fasilitas pelayanan kesehatan primer, penyusunan laporan, hingga mempresentasikan hasil temuannya.
Pendekatan tersebut diharapkan membuat mahasiswa tidak hanya memahami konsep pelayanan primer secara teoritis, tetapi juga mampu membaca persoalan kesehatan secara langsung dan mengembangkan kemampuan analitis sejak awal masa studi.
Riset Dosen Dapat Menjadi Studi Kasus Pembelajaran
Penguatan pembelajaran juga diarahkan melalui integrasi Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya penelitian dosen dengan proses pembelajaran mahasiswa. Prof. Besral mendorong agar hasil penelitian dosen mengenai kondisi kesehatan masyarakat maupun model pelayanan primer di wilayah mitra tidak berhenti pada publikasi ilmiah.
Hasil penelitian tersebut dapat dimanfaatkan sebagai studi kasus dalam pembelajaran untuk melatih daya kritis mahasiswa. Dengan demikian, mahasiswa dapat belajar berdasarkan persoalan nyata yang ditemukan melalui penelitian sekaligus memahami bagaimana bukti ilmiah dapat digunakan untuk menganalisis dan menyelesaikan masalah kesehatan masyarakat.
Kurikulum Diarahkan Mendukung Pendidikan Profesi
Dalam kaitannya dengan rencana pengembangan pendidikan profesi Kesehatan Masyarakat, Prof. Besral menilai bahwa sebagian besar struktur kurikulum telah memiliki kesiapan untuk mendukung pendidikan profesi, meskipun masih diperlukan penguatan pada aspek praktik lapangan profesi dan kompetensi manajerial.
Hal tersebut menjadi catatan penting bagi Prodi Kesmas UMS untuk memastikan bahwa kurikulum tidak hanya menghasilkan lulusan dengan penguasaan pengetahuan, tetapi juga memiliki pengalaman praktik dan kemampuan manajerial yang memadai.
Dalam pembahasan struktur SKS, Prof. Besral juga memberikan fleksibilitas bahwa mata kuliah peminatan tidak harus mencapai 20 SKS dan dapat disesuaikan dengan situasi, kebutuhan, serta visi dan misi program studi.
Penguatan Sistem Evaluasi Pembelajaran
Aspek evaluasi pembelajaran turut menjadi bagian dari diskusi, khususnya mengenai pengukuran Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) dan CPL. Prof. Besral menjelaskan bahwa pengukuran CPMK idealnya dilakukan pada akhir mata kuliah, sementara pengukuran CPL dilakukan setelah mahasiswa menyelesaikan seluruh mata kuliah yang berkontribusi terhadap CPL tersebut.
Apabila terdapat capaian CPMK yang belum memenuhi standar minimal, dosen dan program studi perlu melakukan tindak lanjut melalui mekanisme evaluasi dan perbaikan pembelajaran. Jika permasalahan yang sama terus muncul secara sistematis, maka diperlukan intervensi terhadap sistem atau pelaksana pembelajaran untuk memastikan perbaikan benar-benar terjadi.
Rangkaian masukan tersebut menjadi bahan penting bagi Prodi Kesmas UMS dalam menyempurnakan visi, misi, profil lulusan, dan struktur kurikulum yang tengah dikembangkan. Proses peninjauan dilakukan untuk memastikan kurikulum mampu menjawab kebutuhan masyarakat, perkembangan keilmuan, tuntutan dunia kerja, serta arah perkembangan profesi Kesehatan Masyarakat.
Melalui diskusi bersama Prof. Dr. Besral, Prodi Kesmas UMS semakin memperkuat arah pengembangan kurikulum yang lebih aplikatif dengan proporsi praktik yang kuat, terintegrasi antarbidang keilmuan, berbasis masalah nyata, mendukung kolaborasi lintas profesi, serta responsif terhadap perkembangan digital dan tantangan kesehatan masyarakat.
Hasil pembahasan ini selanjutnya akan menjadi bagian dari bahan penggodokan Kurikulum Prodi Kesmas UMS untuk Tahun Akademik 2027/2028, sehingga diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya menguasai kompetensi akademik, tetapi juga siap menjadi tenaga kesehatan masyarakat yang adaptif, kolaboratif, mampu memecahkan masalah, dan responsif terhadap kebutuhan kesehatan masyarakat di masa depan.
