SURAKARTA – Istilah “super flu” yang belakangan ramai diperbincangkan merujuk pada virus influenza tipe A subvarian H3N2 subclade K. Varian ini pertama kali diidentifikasi oleh Center for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada Agustus 2025.
Epidemiolog Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menilai kemunculan super flu tidak perlu disikapi dengan kepanikan berlebihan. Meski memiliki gejala yang lebih berat dibanding flu musiman, penyakit ini dinilai tidak sebahaya Covid-19 dan masih dapat dikendalikan.
Epidemiolog UMS, Prof. Dr. Yuli Kusumawati, SKM., M.Kes, menyampaikan bahwa berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, hingga awal Januari 2026 tercatat 62 kasus super flu di Indonesia yang tersebar di beberapa wilayah, termasuk Jawa Barat, Jawa Timur, dan Kalimantan Selatan.
“Super flu merupakan hasil mutasi virus influenza tipe A H3N2. Penularannya lebih cepat dan gejalanya lebih berat, seperti demam tinggi, batuk, pilek berat, nyeri otot, dan tubuh lemas,” jelasnya.
Ia menjelaskan, jumlah kasus yang tercatat kemungkinan belum sepenuhnya menggambarkan kondisi di lapangan karena banyak kasus masih terdiagnosis sebagai flu biasa tanpa pemeriksaan genom virus. Faktor iklim tropis dan cuaca ekstrem juga dinilai berperan dalam meningkatnya risiko penularan.
Meski demikian, Yuli menegaskan bahwa tingkat fatalitas super flu relatif rendah. Kasus berat umumnya terjadi pada kelompok rentan atau pasien dengan penyakit penyerta.
Ia mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), menjaga imunitas tubuh, menggunakan masker saat bergejala atau berada di kerumunan, serta mempertimbangkan vaksin influenza sebagai langkah pencegahan.
Pengalaman Indonesia dalam menghadapi pandemi Covid-19 dinilai menjadi modal penting dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman penyakit menular di masa mendatang.
