Dinas Pengendalian Penduduk dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Solo mengadakan Pemilihan Duta Generasi Berencana (Genre) ke-5 Kota Solo 2018 di Solo Grand Mall (SGM), Sabtu (5/5/2018) malam. Sebanyak 40 anak muda bersaing memperebutkan kursi juara. Mereka akan menjadi panutan generasi muda untuk menjadi generasi yang sehat, cerdas, ceria, dan berencana.
Salah satu dari 40 peserta adalah mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat FIK-UMS yang bernama M Raja Pangestu. Raja yang merupakan sapaan tiap hari oleh teman-temannya bercerita tentang awal dia mengikuti lomba Duta Generasi Berencana (GenRe) ini, saya mendapatkan tawaran dari salah satu relawan Solo Mengajar untuk berani mengikuti Pemilihan Duta GenRe Kota Surakarta 2018 yang diadakan DPPKB Kota Surakarta. Dengan persiapan sangat minim yaitu H-2 sebelum tes tertulis pada pemilihan tersebut, saya memutuskan untuk mengikuti pemilihan tersebut. Lomba tersebut diadakan selama lima hari dan pada tanggal 5 Mei menjadi puncak kegiatan lomba tersebu. Atas ridho Allah SWT, saya mendapatkan Juara 1 dalam ajang tersebut dengan predikat sebagai Duta GenRe Putra Jalur Masyarakat Kota Surakarta 2018. Saya juga diamanahi untuk membawa misi menGenRe-kan Kota Surakarta yaitu menciptakan Generasi Sehat, Cerdas dan Ceria demi terciptanya remaja yang anti-pernikahan dini, anti-hubungan seksual sebelum menikah, anti-narkoba, dan merencanakan kehidupannya ke depan, baik pendidikan, pekerjaan, maupun membentuk keluarga agar siap terjun di masyarakat kelak.
Panitia acara, Bagaskara, menyampaikan Duta Genre fokus menyukseskan program Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) untuk menyosialisasikan delapan fungsi keluarga. “Untuk itu kami mencari pemuda yang terbebas dari napza [narkotika, psikotropika, dan zat adiktif], tidak menikah dini, dan tidak melakukan seks bebas,” kata Bagaskara saat ditemui Solopos.com di sela-sela acara.
Sekretaris Dispendukcapil, Sukendar, mengatakan Duta Genre akan mendorong peran aktif generasi muda dalam program kependudukan, keluarga berencana, dan pembangunan keluarga. Dia juga menyampaikan angka perkawinan usia 15-19 tahun di Kota Bengawan masih tinggi.

